• FAMILY GATERING

    Pada beberapa bulan lalu, tepatnya di rumah sakit paru Jember terdapat kegiatan family gathering untuk anak-anak pasca operasi bibir sumbing. Tidak sedikit dari keluarga pasien yang sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut. Kegiatan tersebut merupakan program dari Dr. Ulfa yang menggelar kegiatan operasi bibir sumbing dan langit sumbing secara gratis. Acara sosial ini berhubungan dengan jurusan ilmu kesejahteraan sosial karena kita sebagai pekerja sosial dapat membantu menumbuhkan kembali percaya diri untuk orang tua agar tidak membatasi anak dalam bermain akibat memiliki kelainan.

  • PRAKTIK CERDIK KELUAR LINGKUNGAN KAMPUS (PACEKLIK)

    Untuk kesekian kalinya, jurusan ilmu kesejahteraan sosial melakukan kegiatan sosialisasi terhadap anak-anak di desa. Kegiatan tersebut merupakan program rutin dari jurusan sebagai bentuk kepedulian kita sebagai pekerja sosial. Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk menumbuhkan semangat anak dalam menuntut ilmu. Kurang lebih 15 anak mengikuti kegiatan sosialisasi tersebut yang digelar di desa jelbuk.

  • SOSIALISASI KENAKALAN REMAJA

    REMAJA ADALAH MASA DIMANA SESEORANG MENCARI JATI DIRI. MASA-MASA INI ADALAH MASA YANG SANGAT KRUSIAL. MAKA DARI ITU DIPERLUKAN PEMBEKALAN KEPADA PARA REMAJA AGAR SELAMAT DALAM MELEWATI MASA REMAJANYA SEHINGGA MASA DEPAN TERTATA DAN MEMILIKI PERENCANAAN YANG MATANG

  • PACKLIK BATCH 2

    Jurusan ilmu kesejahteraan sosial juga memiliki program rutin yaitu kegiatan paceklik. Kegiatan ini dilakukan seminggu satu kali dan secara bergantian oleh mahasiswa ilmu kesejahteraan sosial. Paceklik merupakan serangkaian kegiatan pembinaan ke desa dengan memiliki sasaran yakni anak-anak kecil di desa. Masyarakat desa sangat antusias dengan mengikutsertakan anak mereka dalam kegiatan paceklik tersebut. Kegiatan yang dilakukan antara lain belajar bersama dan bermain bersama. Kegiatan paceklik yg pertama-tama dilakukan adalah melakukan observasi ke rumah-rumah warga hingga melakukan pembinaan kepada anak-anak.

Bidang Praktik Pekerja Sosial


Sampai sekitar pertengahan 1950-an, sebagian besar praktik adalah dengan anak-anak dan remaja di lembaga masyarakat. Coyle merumuskan praktik ini dalam bukunya,Group Work with American Youth (kerja kelompok dengan pemuda Amerika), yang diterbitkan pada tahun 1948. Tampaknya aneh, tetapi itu adalah buku pertama tentang praktik kerja kelompok sosial. Diikuti dengan cepat oleh kelompok sosial Harleigh trecker’s Social Group Work: Principle and Practice, yang mencakup layanan untuk semua kelompok umur dalam pengaturan komunitas. Hal itu adalah buku karya Wilson dan Ryland, Social Group Work Practice (Kelompok Kerja Praktik Sosial), yang membuat transisi ke penggunaan kelompok di semua bidang praktik dan jauh lebih luas dalam ruang lingkup daripada yang lain. Dalam buku Gisela Konopka’s Therapeutic Group Work with Children adalah buku keempat yang diterbitkan pada akhir dekade. kerja kelompok sosial sekarang sedang dipraktekkan dan banyak bidang di luar layanan kelompok.

Karena menunjukkan kegunaannya dalam layanan militer selama Perang Dunia II, kerja kelompok untuk tujuan terapeutik menyebar dengan cepat. Neva Boyd sebelumnya melakukan kelompok sosialisasi dengan pasien sakit jiwa di Rumah Sakit Chicago State pada pertengahan 1930-an, menggunakan berbagai pengalaman sosial untuk tujuan terapeutik. Sejauh yang saya tahu, penempatan kerja lapangan pertama di sekolah-sekolah pekerjaan sosial dalam pengaturan kejiwaan diatur oleh Wilson di University of Pittsburgh pada tahun 1939, pertama di klinik bimbingan anak dan kemudian di rumah sakit jiwa. sekolah-sekolah lain segera menyusul.

Penggunaan kelompok untuk tujuan terapeutik dipercepat dengan kedatangan di Amerika Serikat pengungsi dari Jerman dan Austria. dalam praktik Eropa mereka, kelompok telah memainkan bagian penting dalam pendidikan dan terapi. konopka mencatat bahwa "pengalaman mereka yang menyakitkan di Nazi Jerman atau Austria ... meningkatkan motivasi mereka untuk meningkatkan hubungan sosial." kelompok dipandang sebagai ukuran untuk mencapai tujuan itu. Orang-orang ini termasuk Walter Friedlander, yang bukunya mengidentifikasi elemen-elemen umum antara kerja sosial, hubungan kerja sosial, kerja kelompok sosial, dan organisasi komunitas, konopka, yang telah menulis banyak buku dan artikel tentang terapi kelompok, masa remaja, dan praktik kerja kelompok sosial. Henry Maier, yang pekerjaan utamanya adalah teori pengembangan dan penelitian utama dalam teori pengembangan manusia dan kelompok bekerja sebagai bagian dari perawatan di tempat tinggal, dan Fritz Redl, yang kontribusi utamanya adalah pengembangan kerja kelompok terapi dengan gangguan emosi anak-anak di lingkungan komunitas dan pemukiman.

Penggunaan kelompok dalam pengaturan kesehatan mental sangat didukung oleh Institude Nasional kesehatan mental, yang membiayai dua konferensi undangan nasional tentang penggunaan kelompok dalam pengaturan tersebut pada 1950-an. para peserta dibagi rata antara mereka yang terutama diidentifikasi dengan kerja kasus dan mereka yang terlibat dalam kerja kelompok. pada saat itu, banyak pekerja sosial menambahkan pekerjaan dengan kelompok ke dalam praktik mereka. penggunaan kelompok dalam pengaturan kesehatan mental sangat didukung oleh Institude Nasional kesehatan mental, yang membiayai dua konferensi undangan nasional tentang penggunaan kelompok dalam pengaturan tersebut pada 1950-an. para peserta dibagi rata antara mereka yang terutama diidentifikasi dengan kerja kasus dan mereka yang terlibat dalam kerja kelompok. pada saat itu, banyak pekerja sosial menambahkan pekerjaan dengan kelompok ke dalam praktik mereka.

Meskipun kerja kelompok digunakan dalam pengaturan medis sedini mungkin pada tahun 1905, butuh waktu lebih lama untuk itu bertahan di sana daripada di pengaturan kejiwaan. pada tahun 1959, bagaimanapun, minat dalam penggunaan kelompok dalam pengaturan kesehatan telah cukup maju untuk Asosiasi Nasional Pekerja Sosial (NASW) untuk menunjuk sebuah komite untuk mempelajari kelompok-kelompok di rumah sakit medis dan klinik. dalam publikasi yang dihasilkan, Louise Frey melaporkan dua puluh tiga artikel tentang masalah ini. peningkatan pesat sejak saat itu didokumentasikan oleh Norten yang, pada tahun 1983, menemukan 249 publikasi. kelompok terapi mendominasi, diikuti frekuensi oleh kelompok pendukung, pendidikan psikososial, resolusi krisis, sosialisasi, pelatihan, dan mediasi. perhatikan sejumlah besar jenis kelompok yang telah dijelaskan. orientasi teoretis biopsikososial memberikan dasar pengetahuan penggunaan oleh sebagian besar penulis. Kelompok digunakan untuk berbagai keperluan di semua bidang praktik kesejahteraan keluarga-anak, pekerjaan sosial industri, gerontologi, kesehatan, kesehatan mental, dan pendidikan.

Keterkaitan Konseling Oleh Pekerja Sosial Dengan Konseling Oleh Profesi Konselor Lainnya


Keterkaitan Kegiatan Konseling oleh Pekerja Sosial dengan Kegiatan Konseling oleh Profesi Konselor lainnya

Kegiatan konseling oleh pekerja sosial harus dilakukan secara profesional dan berlandaskan nilai dan etika sebagai seorang pekerja sosial. Pun juga dengan profesi lainnya yang sama melakukan kegiatan konseling.

Pekerjaan sosial merupakan pekerjaan yang menarik karena berfokus pada masalah yang sulit yang dialami klien. Pekerjaan Sosial memiliki setidaknya lima dimensi utama yang membuatnya unik dan semakin menarik.

Pertama, pekerja sosial dapat fokus pada masalah atau kelompok masalah yang kompleks dan sulit. Pekerja sosial tidak menolak untuk bekerja dengan klien atau merujuk mereka ke tempat lain karena klien-klien memiliki karakteristik.

Dimensi kedua, yang membuat pekerjaan sosial yang unik adalah bahwa hal itu sering menargetkan lingkungan meliputi klien, dan bukan klien sendiri untuk perubahannya. Kadang-kadang layanan tidak tersedia atau sulit untuk mendapatkan, kebijakan yang tidak adil, atau orang-orang ditindas oleh orang lain. Administrator dan orang yang berkuasa tidak selalu memiliki motivasi atau wawasan untuk memulai perubahan yang diperlukan. Pekerja sosial harus melihat di mana perubahan sangat penting di luar individu dan bekerja dengan lingkungan untuk memberlakukan perubahan tersebut.

Dimensi ketiga, yang membuat pekerjaan sosial yang unik terkait dengan penargetan lingkungan: yaitu, pekerja sosial sering merasa perlu untuk mengadvokasi klien mereka. Pembelaan melibatkan secara aktif campur tangan untuk membantu klien mendapatkan apa yang mereka butuhkan.

Dimensi keempat, yang membuat pekerjaan sosial yang unik adalah penekanan pada dan kepatuhan terhadap inti profesional nilai-nilai. Para pekerja sosial tidak memaksa cara berpikir atau bertindak orang tertentu. Sebaliknya, mereka membantu orang membuat keputusan sendiri tentang bagaimana untuk berpikir atau bertindak.

Dimensi kelima yang membuat pekerjaan sosial yang unik berkaitan dengan inti nilai-nilai pekerjaan sosial yakni betapa pentingnya untuk klien dalam membuat keputusan mereka sendiri. Para pekerja sosial tidak melacak cara spesifik berpikir atau bertindak seseorang. Sebaliknya, mereka berlatih dalam suatu kemitraan dengan klien, membuat dan melaksanakan rencana bersama-sama. Kebanyakan profesi lain menekankan otoritas dan keahlian profesional, pada satu tangan, dan status bawahan klien sebagai penerima jasa.

Peran konselor yang dimainkan saat konseling berlangsung oleh  pekerja sosial adalah hanya sampai pada perubahan sikap klien terhadap orang lain berdasarkan baik buruknya. Hanya pada level luar saja atau mikro. Berbeda lagi dengan peran konselor yang berlatar psikolog, mereka melakukan konseling dengan ranah yang sampai masuk kedalam tahap merubah perilaku, sehinggga bisa dikatakan pada konseling yang sangat pribadi dan individual. Karena psikolog juga memperhatikan pada aspek mental, pikira, jiwa saraf dan anggota tubuh yang ada di dalam.

Batasan Peran Konseling Oleh Pekerja Sosial



Batasan Peran Konseling yang dapat Dilakukan oleh Pekerja Sosial

Peran yang dapat dilakukan seorang pekerja sosial saat proses konseling berlangsung yaitu dengan membuat kontrak yang disepakati bersama antara konselor dengan klien mengenai batasan perilaku antara klien dan konselor, hingga berakhirnya konseling dalam jangka waktu yang telah mereka tentukan.

Dan di sini akan membahas mengenai batasan-batasan konseling yang dapat dilakukan oleh pekerja sosial dilihat dari tahapan yang dilalui dalam konseling. Ada tiga tahap penting yang harus dilalui dalam konseling; (1) membangun hubungan, (2) mengeksplorasi masalah secara mendalam, dan (3) mengeksploraasi solusi alternatif (Zastrow, 2004:181).

1. Membangun Hubungan

Pada tahap ini, pekerja sosial dan klien harus memiliki hubungan yang harmonis. Terjalinnya hubungan yang baik sangat diperlukan karena hal ini merupakan sebuah dasar dalam proses konseling agar dapat berjalan lancar dan sesuai dengan yang diharapkan. Ditahap ini konselor harus mampu memciptakan suasana yang aman dan nyaman, mampu menjalin komunikasi yang baik, dan membangun kepercayaan klien terhadap pekerja sosial akan permasalahannya selama konseling berlangsung.

Dalam bagian awal proses konseling antara pekerja sosial dengan klien harus melakukan kontrak yang tegas berkaitan dengan proses konseling. Misalnya dengan  membeberkan apa kewajiban yang harus dipenuhi pekerja sosial maupun hak yang harus diterima oleh klien. Di sini pekerja sosial untuk menerapkan prinsip-prinsip etik agar terbina hubungan yang harmonis antara keduanya. Sehingga konselor harus mampu menjaga kerahasiaan klien dan menjaga batasan-batasan profesionalitas.

2. Mengeksplorasi Masalah Secara Mendalam

Tidak sedikit pekerja sosial tidak sabar untuk segera menyelesaikan proses konseling. Sehingga keputusan-keputusan etik dibuat secara tepat tanpa melakukan identifikasi masalah secara mendalam. Alih-alih keputusan pekerja sosial menyelesaikan masalah yang diharapkan, justru timbul masalah baru(Huda, 2009:202). Untuk itu, seorang pekerja sosial harus memiliki sikap yang sabar dan sensitif terhadap klien. Sehingga dalam pengambilan keputusan tidak tergesah-gegesah dan menunjukkan bahwa pekerja sosial memperhatikan diri klien.

Di tahap ini juga, pekerja sosial harus mampu menerapkan prinsip confidentiality (menjaga kerahasiaan) dan memiliki empati yang tinggi. Dengan demikian pekerja sosial mampu mengeksplor lebih dalam akan masalah klien. Karena apabila seorang pekerja sosial  tidak dapat menjaga kerahasiaan klien, maka pekerja sosial tersebut sudah melanggar etika pekerjaan sosial.

Di tahap ini pekerja sosial harus peka terhadap kondisi psikologis klien maupun dirinya sendiri. Seperti respon apa yang harus ia berikan terhadap klien, bagaimana ekspresi klien saat konseling berlangsung, hal-hal apa saja yang menyinggung klien, tahu pertanyaan apa dan kapan harus diajukan, paham akan kondisi dan waktu saat pekerja sosial butuh merespon atau cukup menjadi pendengar saja. Pekerja sosial harus paham akan hal tersebut karena akan mendukung terjadinnya hubungan yang terbuka dan saling percaya. Tidak hanya itu, untuk menjadi seorang pekerja sosial diperlukan latihan yang dapat dikatakan tidak singkat.

3. Mengeksplorasi Solusi Alternatif



Langkah terakhir setelah pekerja sosial dapat mengidetifikasi masalah klien secara mandalam adalah melakukan eksplorasi terhadap solusi-solusi yang dapat diterapkan. Pekerja sosial dengan melibatkan klien dapat mengidentifikasi daftar-daftar solusi masalah yang dapat diajadikan alternatif untuk menyelesaikan masalah (Huda, 2009:204).

Di sini terjadi identifikasi akan solusi alternatif maupun pengambilan keputusan dilakukan pekrja sosial dengan melibatkan klien. Seorang pekerja sosial menerapkan prisip self-determination (mengahargai keputusan klien) dalam proses konseling pada tahap ini. Tentu sebelum itu, pekerja sosial harus mampu memberikan beberapa alternatif solusi kepada klien dengan mempertimbangkan akibat-akibat dari keputusan yang akan diambil. Pekerja sosial juga tidak boleh melupakan norma dan nilai etika yang berlaku saat memberikan rekomendasi penyelesaian masalah dan mampu menjelaskan kepada klien.

Dari beberapa alternatif yang telah diberikan, diharapkan klien mampu menentukan keputusan apa yang akan diambil dengan bertimbangan keputusan baik buruk maupun benar salah menurut klien. Dan pekerja sosial harus menghargai keputusan tersebut.

Saat antara pekerja sosial dengan klien tidak mampu mencapai tujuan yang diinginkan, sesuai jangka waktu yang telah ditentukan, pekerja sosial dan klien dapat memperpanjang masa konseling.  Atau  antara pekerja sosial dengan klien terjalin hubungan diluar proses konseling, maka pekerja sosial harus memustuskan kontrak dan memberi rekomendasi kepada pekerja sosial lainnya. Karena  hal tersebut  sudah termasuk dalam pelanggaran kode etik.

Selain itu, pekerja sosial dapat menghubungkan klien dengan  pihak-pihak yang dibutuhkan. Dalam proses konseling, pekerja sosial dapat menjalankan peran sebagai enabler (membantu orang agar mampu), broker (pialang sosial), pengacara, pendidik, memberdayakan, aktivis dan sebagainya.

Peran Konseling Bagi Pekerja Sosial


Peran Konseling dalam Pekerjaan Sosial

Menurut McLeod dan George&Cristiani dalam Nursalim (2015:19), konseling (counseling) merupakan suatu bentuk model pendekatan dalam bidang pelayanan atau intervensi psikologis. Konseling merupakan suatu hubungan professional antara seorang konselor yang terlatih dan klien. Hubungan itu selalu bersifat antarpribadi (person-to-person), meskipun sering kali dapat melibatkan lebih dari dua orang. Hubungan tersebut dirancang untuk membantu klien memperoleh pemahaman tentang kehidupannya dan untuk belajar mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkannya sendiri dengan cara memanfaatkan sumber-sumber informasi yang terpercaya dan melalui pemecahan masalah-masalah emosional dan interpersonal.

Menurut Zastrow (1999:5) pekerjaan sosial merupakan sebuah aktivitas professional dalam menolong individu, kelompok dan masyarakat dalam meningkatkan atau memperbaiki kapasitas mereka agar berfungsi sosial dan untuk menciptakan kondisi-kondisi masyarakat yang kondusif dalam mencapai tujuannya. [Huda, (2009:3)]

Dari pengertian konseling dan pekerjaan sosial menurut pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa antara konseling dan pekerjaan sosial saling terkait dan sama-sama memiliki tujuan  yaitu membantu klien untuk mencapai tujuannya atau memahami dan menyelesaikan permasalahannya. Dalam praktik konseling terjalin sebuah hubungan yang baik antara konselor dengan klien secara professional. Profesional di sini berarti terdapat batasan-batasan yang harus dan tidak boleh dilakukan oleh seorang konselor dengan klien saat proses berlangsungnya konseling. Di sini seorang konselor harus berpedoman pada nilai dan etik pekerja sosial sebagaimana mestinya. klien harus membuat perjanjian atau kontrak yang berhubungan dengan proses konseling.